Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

The Story Only I Didn’t Know



Cast : IU/Lee Ji Eun
          Jang Wooyoung


Genre : Drama, Romance, Fantasi


Just For Fun!!!! FF


........................................................................................................................................................


Hidup ini seperti sebuah cerita, dimana kita menjadi tokoh utama dalam cerita yang telah dibuat. Ada kalanya kita tertawa, kita menangis, kita mencintai dan kita dicintai. Menjadi kesatuan yang utuh dalam sebuah realita kehidupan yang nyata. Namun kalanya kita menemui sebuah alur yang berbeda, dengan jalan cerita yang tak pernah kita tau.

***

Hari-hariku selalu kuhabiskan dengan bernyanyi, menghibur orang-orang yang tengah menghabiskan waktu malam disebuah bar kecil di Kota Seoul. Aku bernyanyi untuk mendapatkan uang, karena itulah pekerjaanku. Kunikmati setiap won yang kudapat dari hasilku menjual suara. Orang-orang selalu memujiku, dengan mengatakan bahwa aku memiliki suara yang merdu, dan itu menjadi modal untukku melakukan perkerjaan ini.

***

Eonjengan i nunmuri meomchugil
Eonjengan i eodumi geodhigo
Ttaseuhan haetsari i nunmureul mallyeojugil

(IU - Someday)

Seperti biasa, saat matahari mulai kembali keperaduannya, aku memulai aktivitasku dengan bernyanyi. Di sebuah bar kecil di Kota Seoul, aku benyanyi untuk memberi hiburan pada sekumpulan pengunjung bar yang tengah menghabiskan malam yang dingin ini dengan sebotol soju untuk menghangatkan tubuh mereka.

Dengan suara petikan gitar yang mengiringi lantunan lagu, aku bernyanyi sembari mengarahkan kedua bola mataku menyusuri ruangan ini, memandang orang-orang yang tengah asyik menikmati lantunan lagu dengan sebotol soju.Tanpa sengaja mataku tertuju pada sudut ruangan yang telah melingkar sebuah meja kayu yang kini telah terduduk seorang pengunjung yang baru pernah kulihat. Aku baru saja menyadari keberadaannya, seorang namja yang terlihat tampan dengan paras wajahnya yang merona.

Aku melihatnya, memandangnya dengan seksama, kulihat ia memesan sebotol soju yang sudah ada dimejanya. Aku terus menatapnya, hingga ia menyadari bahwa aku tengah melihatnya, dan tanpa kuduga namja itu  membalas tatapanku dengan senyumannya yang begitu manis. Sejanak, kamipun saling beradu pandang.

Hingga akhirnya, aku kembali melantunkan lagu yang tengah kunyanyikan, kupalingkan pandanganku darinya. Kali ini aku benar-benar tersipu malu saat ia membalas tatapan mataku. Sunggu sangat menawan melihat tatapan matanya yang lembut dengan senyuman yang manis.

***

Dua lagu sudah kulantunkan dihadapan semua pengunjung bar, tak terkeculi seoang namja disudut ruangan ini. Sebagian dari mereka memberikan tepuk tangan atas penampilanku, berteriak memuji suaraku bahkan kecantikanku. Aku berterimakasih atas pujian mereka, kubungkukkan badanku sembari memberi senyum sebagai isyarat terima kasihku.

Saat aku kembali menegakkan badanku, aku sudah tak lagi melihat sosok namja yang telah mencuri perhatianku. Aku fikir, aku dapat berkenalan dengannya, sebagai pengunjung baru di bar ini, aku berharap dapat mengenalnya. Namun ternyata, ia sudah menghilang dari tempatnya, dan aku benar-benar tak menyadari kepergiannya.

Kemudian akupun memutuskan untuk bertanya pada salah satu pelayan di bar,, “nona, apa kau melihat seorang namja yang duduk disana?” ucapku sembari menunjuk meja kosong disudut ruangan.

“mollayo” pelayan itu menjawabnya dengan singkat. 

Mungkin ia memang harus segera pergi, sehingga tak ada yang melihatnya. Dan malam ini aku hanya bisa membuang nafas kecewaku. Aku berjalan mendekati meja kayu itu, aku melihat sebotol soju dan sebuah gelas kecil yang sudah kering. Aku tersenyum kecil melihatnya, membayangkan saat ia tengah duduk disana. Dan tanpa sengaja, aku melihat sebuah benda kecil yang bercahaya dibalik botol soju itu. Kalung! Yah,, sebuah kalung putih bergambarkan bintang tergeletak dibalik botol soju itu. Aku mengambilnya sembari berpikir, ‘apa ini milik namja itu?’

***

Keesokan harinya, saat matahari mulai menenggelamkan diri di ujung barat, aku terbangun dari tidurku. Seharian ini aku hanya menghabiskan waktuku untuk tidur, karena bagiku tidur akan lebih baik daripada menghabiskan waktuku untuk semua aktivitas yang tak penting. Namun tiba-tiba,aku teringat dengan sebuah kalung putih bergambarkan bintang yang tertinggal dimeja kayu itu, aku mengambil benda itu yang kubawa semalam, kulihat setiap detail dari ukiran bintang yang tergantung dikalung itu, sungguh indah. Aku menjadi teringat kembali dengan sosok namja yang kulihat semalam, teringat akan tatapan matanya yang lembut dan senyumannya yang manis. Aku berharap, jika malam ini ia akan datang.

***

Malam  ini aku tengah bersiap untuk kembali bekerja, aku tak tau apa yang kulakukan, tanpa berfikir panjang aku mengambil sebuah dress berwarna putih yang terlihat anggun saat kukenakan, entah mengapa malam ini aku sangat ingin berpenampilan anggun. Kuikat sebagian rambut panjangku agar terlihat rapi, kukenakan polesan make up yang tak terlalu mencolok, dan akupun tersenyum didepan cermin melihat penampilanku malam ini.

“cham yebbeoyo,,” aku tersenyum atas perkataanku barusan, aku memuji diriku sendiri di depan cermin. Seolah,, sebuah bayangan muncul dari dalam cermin.

***

Aku berjalan menyusuri jalanan Kota Seoul yang dipenuhi dengan gumpalan-gumpalan salju, masih terlihat ramai meskipun suhu diluar sangat dingin, kulihat sekelilingku dan tanpa sengaja kulihat sekilas sosok namja yang sepertinya pernah kulihat. Yah,, namja itu, ia yang kulihat di bar malam itu. 

Aku berusaha mengejarnya,menerobos diantara orang-orang yang tengah berjalan, aku melihat ia melangkah dengan cepat melewati sebuah gang kecil. Dan itu benar-benar membuatku kehilangan jejaknya, ia berjalan dengan sangat cepat, sepertinya ia terlihat buru-buru, dan aku sudah tak melihatnya dimanapun. Tapi aku kembali yakin bahwa malam ini, ia akan datang.

***

While I was waiting for you,
I’ve been thinking that you’re so painful after you left me.
So you’re crying on the way back to me.
When I look at you, I hope.
On a clear day you will come back to me just like when you left me.

Can’t I see you again?
I can’t see me In your eyes

(IU - Waiting)



Sudah tiga lagu kunyanyikan malam ini, namun aku masih belum melihat sosoknya disana, seorang namja yang duduk disudut ruangan ini, berkali-kali kedua bola mataku menyusuri seluruh ruangan, namun memang tak kulihat batang hidungnya. Meskipun demikian aku masih berharap jika ia akan datang malam ini.

Aku kembali bernyanyi, aku kembali melantunkan sebuah lagu, sebuah lagu yang menggambarkan isi hatiku saat ini, sebuah lagu yang mengambarkan harapanku akan kedatangannya, dan aku akan terus berharap bahwa ia akan datang.

Saat yang kunanti tiba, aku melihat sosoknya telah terduduk manis disudut ruangan itu, aku tak tau saat ia datang dan saat ia pergi, tapi aku tak peduli itu, bagiku inilah hal yang menyenangkan saat aku bisa melihatnya kembali. Mungkin aku telah jatuh cinta padanya, ‘cinta pada pandangan pertama’. Kulemparkan senyum padanya, dan iapun membalas senyumanku bersamaan dengan lambaian tangannya padaku.

***

“dilagu terakhir malam ini,, kupersembahkan lagu ini untuk seseorang yang spesial disana,,” kataku sembari  melihat kearahnya, kearah sosok namja yang kini tengah menaungi hatiku.

Loving you
Is more than just a dream come true
And everything that I do
Is out of loving you

No one else can make me feel
The colors that you bring
Stay with me while we grow old and
We will live each day in spring time
(IU - Loving You)

 Aku masih bernyanyi, kali ini aku benar-benar menghayati setiap kata dalam bait lagu, masih dengan petikan gitar yang berpadu harmonis dengan tut tut piano yang lembut mengiringi setiap bait lagu yang kulantunkan. Seolah menggambarkan suasana hatiku yang tengah bahagia, aku terus bernyanyi bersama jiwaku. Setelah sekian lama kututup hati ini, dan saat inilah aku kembali merasakan sebuah getaran cinta.
Kupejamkan mataku, dalam tarikan nafas terakhir untuk mengakhiri lagu ini, aku berucap “nan haengboghae” dan kudengar, satu persatu tepuk tangan pengunjung bar yang sedari tadi hanya diam melihatku bernyanyi. Semakin banyak dan semua menjadi sebuah tepuk tangan meriah, kubayangakan saat aku tengah bernyanyi disebuah panggung besar dengan tata cahaya yang indah disaksikan banyak penonoton tanpa terkecuali sosoknya yang menjadi orang spesial dimalam ini.

Aku masih saja memejamkan kedua mataku, berharap saat aku membuka mata, aku masih dapat melihat sosoknya disana. Melihat tatapan matanya yang lembut dan senyumannya yang manis.

Perlahan aku membuka mataku, satu per satu bayangan orang-orang dihadapanku mulai terlihat, hingga pandanganku tertuju pada satu sosok disudut ruangan yang tengah melihat kearahku. Yah,, namja itu, ia masih duduk manis disana, ia masih melihatku, ia tak pergi seperti malam kemarin. Aku tersenyum, aku tersenyum padanya.

Perlahan aku menuruni panggung kecil yang menjadi saksi bisu saat aku bernyanyi, masih dengan tatapan-tatapan kagum para pengunjung bar, aku melangkah mendekati meja kayu disudut ruangan ini, aku mendekati sosok namja yang sudah lama kuharapkan, hingga kini aku sudah berada tepat dihadapannya, menatapnya dan kulemparkan senyuman padanya.

“apa kau mencari benda ini,,” tanpa basa basi aku langsung menyerahkan sebuah kalung putih dihadapannya.

Sejenak ia hanya diam, kedua bola matanya bergerak bergantian manatap kearahku dan pada kalung putih ditanganku, lalu ia tersenyum padaku.

“bagaimana kau menemukannya?” ia berdiri dari duduknya, mensejajarkan tinggi tubuhnya denganku, dan untuk pertama kalinya ia mengeluarkan suaranya, benar-benar sosok yang menawan.

“kau meninggalkannya semalam,, dan aku pikir ini milikmu..” kataku sembari menyerahkan benda itu dihadapannya.

“gamsahamnida,, kalung ini adalah benda yang berharga untukku,,” aku terperanjat atas ucapannya barusan, benda berharga? Apa kalung ini dari seseorang yang spesial dihidupnya, seorang yeoja.

“cheonmaneyo,, kau beruntung,, karena benda itu tak sampai hilang,,” aku tersenyum menatap kalung putih yang bercahaya karena pantulan sinar lampu.

“ne,, kau benar,,” ia membalasnya singkat. Aku tersenyum dan berlalu pergi.

“Ji Eun-ssi,,,” kudengar ia memanggil namaku, apa? ia tahu namaku.

“kau,, bagaimana kau bisa tahu namaku?” aku membalikkan badanku dan kali ini aku kembali berhadapan dengannya.

Ia tersenyum, sembari melangkah mendekatiku yang sudah agak jauh dari tempatnya,, “kau,, Lee Ji Eun,, siapa yang tak mengenalmu. Suaramu sangat merdu,, semua orang akan mudah mengenali suaramu yang indah,, dan kau,, cham yebbeoyo!” ia berbisik ditelingaku.

“mwo,,,? Benarkah itu?” aku tersipu dengan kata-katanya barusan, ia memujiku, memujiku dengan baik.

Ia mengedipkan sebelah matanya padaku,, dan membuatku hanya bisa menatapnya tak percaya.

***

Hari demi hari kulewati dengan bahagia, namja itu, Jang Wooyoung, yah,, itulah namanya. Kini aku semakin dekat dengannya, sering kali kuhabiskan waktuku bersamanya, saat aku tengah bernyanyi, ia selalu datang hanya untuk sekedar melihatku. Aku bahagia,, sungguh bahagia dengan apa yang sudah terjadi hingga saat ini,, seolah ia sudah ditakdirkan untuk menjadi namjaku, orang yang mengisi hatiku.

Seperti saat ini,, ia mengajakku pergi. Berkencan! Yah,, mungkin kata itulah yang lebih tepat. Ia mengajakku berkencan menghabiskan sebagian waktu dimusim dingin. Karena memang,, hari ini adalah hari terakhir dimusim dingin, dan esok,, esok akan menjadi musim yang indah, spring,, sebuah musim yang indah dan menyenangkan.

“Ji Eun-ssi,, apa kau menyukai musim semi?” ia memulai pembicaraan kami saat kami tengah duduk disebuah ayunan di taman kota.

“aigoo,, musim semi adalah musim yang indah,, tak ada lagi gumpalan-gumpalan putih yang menutupi daun-daun hijau, bunga-bunga akan bermekaran, dan akan menjadi hari yang sangat menyenangkan!” kataku dengan semangat, sembari melihat langit malam yang terlihat terang, meskipun tak banyak bintang yang terlihat, namun langit terlihat indah.

“arayo,, musim semi memang musim yang sangat indah..” ia berkata sangat pelan, namun kulihat ia tersenyum menatap langit malam itu. Membuatku ikut tersenyum melihatnya.

Sejenak kami hanya saling terdiam,, menikmati suasana malam yang dingin, namun bagiku tak menjadi masalah saat aku tengah bersamanya, bersama namjaku, Jang Wooyoung ^^

“Ji Eun-ssi,,” kini ia kembali memanggil namaku, menatapku bahkan kini ia sudah berdiri tepat dihadapanku.

Aku terkejut melihatnya, kudongakkan kepalaku agar aku bisa melihat wajahnya.
Aku hanya diam, karena kupikir ia akan mengatakan sesuatu padaku. Dan ternyata memang benar,, “maukah kau berjanji padaku untuk malam ini dan seterusnya,,” ia menggantungkan kata-katanya, membuatku mengerutkan dahi, karena aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan barusan.

Ia mengambil sesuatu di saku jaketnya,, suatu benda yang sudah kukenal, kalung itu! yah,, kalung putih bergambarkan bintang itu ia keluarkan dari saku jaketnya, kalung yang berharga untuknya.
“maukah kau menyimpan kalung ini untukku?” ia meperlihatkan kembali kalung itu dihadapanku.

“mwo,,! Bagaimana bisa? Bukankah itu benda yang berharga untukmu?” aku semakin tak mengerti dengan semua ini, apa maksud semua ini sebenarnya?

“kau benar,, ini adalah benda yang berharga untukku,, tapi kau lebih berharga untukku, dan aku sungguh ingin kau menyimpan kalung ini untukku..” ia tersenyum padaku, namun aku melihat keteduhan dari matanya, tak pernah aku melihatnya seperti ini sebelumnya.

Kuhembuskan nafas berat untuk menerimanya,, “baiklah,,” ucapku pelan. Ia tersenyum dan kemudian mengalungkan kalung itu dileherku.

“saranghae,,” bisiknya kepadaku.

“saranghae, oppa,,” aku membalas ucapnya,, kali ini aku berdiri untuk menyeimbangkan tinggiku dengan tingginya.

Tanpa kuduga,, ia mendekatkan wajahnya padaku,, semakin dekat dan semakin dekat hingga jarak wajahku dan wajahnya hanya terpaut beberapa centi,, bahkan hidung kami kini telah terpaut, dan aku dapat merasakan setiap hembusan nafasnya yang pelan.

‘cup’

Sebuah kecupan lembut ia daratkan dikeningku,, aku tersenyum dengan semua ini. Dan kali ini ia mendekapku dalam sebuah pelukan hangat yang nyaman. Ia memelukku erat, memelukku dengan cinta.
“oneul jeulghe oweoseoyo” batinku.

***

Saat yang telah kutunggu datang, musim semi yang hangat dan indah, aku kembali dengan rutinitasku. Saat aku terbangun hari ini, aku merasa apa yang telah terjadi malam itu adalah sebuah mimpi. Anio! Tentu tidak, itu semua nyata, bahkan aku dapat merasakan pelukannya yang hangat, dan kalung,, aku mencari kalung putih yang semalam telah ia pasang dileherku. Ada,, kalung itu terpasang manis dileherku. Aku tersenyum memegangnya.

Aku kembali dengan pekerjaanku sebagai seorang penyanyi bar, melihat orang-orang yang masih setia mengunjungi bar ini setiap malam, aku semakin semangat melantunkan setiap bait lagu untuk mereka. Seperti malam ini, aku teringat dengan sebuah lagu yang terdengar indah,,

 Because loving you
Has made my life so beautiful
And every day of my life
Is filled with loving you
(IU - Loving You)

***

Malam ini, aku telah menyelesaikan semua tugasku, namun sepertinya hatiku tak merasa lega karena aku tak menemukan sosok namja yang kuharapkan. Jang Wooyoung, aku tak melihatnya dimanapun, ia tak datang malam ini. Dan aku merindukannya, bahkan kerinduan itu berubah menjadi sebuah kecemasan.

“Ji Eun-ssi,, siapa yang kau cari?” seorang pelayan bar menghampiriku dan bertanya padaku.

“anio,, aku hanya,,” aku menghentikan kata-kataku. Sejenak aku berpikir karena tiba-tiba aku menjadi ragu untuk mengatakannya,,  “sudahlah itu tak penting,,” ucapku kemudian.

“baguslah! Ji Eun-ssi,, malam ini kau sunggu luar biasa..” kini ia memujiku, memuji penampilanku barusan, namun aku tak begitu mempedulikannya, karena saat ini kedua bola mataku terus saja memperhatikan pintu masuk di sudut sana, berharap jika ia akan muncul.

“Ji Eun-ssi!” seru pelayan bar dihadapanku, kali ini ia menunjukan wajah bingungnya saat melihatku yang terlihat gelisah.

“nona,, apa kau tau seorang namja yang akhir-akhir ini sering mengunjungi bar ini?” kali ini aku memutuskan untuk bertanya pada pelayan bar yang masih terlihat bingung melihatku.

“mwo,,!? akhir-akhir ini banyak namja yang sering mengunjungi bar,, bagaimana aku bisa tau sosok namja yang kau maksud!” ia menjawab pertanyaanku ringan.

“benar juga,, tapi maksudku seorang namja yang sering duduk disana? dimeja kayu itu?” aku kembali bertanya, kali ini lebih kuperjelas pertanyaanku sembari menunjuk sudut ruangan.

“siapa? disana? aku tak pernah melihat siapapun disana,, bahkan sejak pertama kali aku bekerja disini, tempat itu memang selalu kosong!” ia memberiku jawaban yang sungguh tak kumengerti. Bagaimana mungkin? Ia tak pernah melihatnya?

“hey nona,, kau jangan bercanda? Bahkan aku sering mengobrol dengannya?”  aku mencoba meyakinkannya, karena mungkin ia melupakan sesuatu.

“Ji Eun-ssi,, apa kau melihatku seperti sedang bercanda, hah,, kau yang bercanda,, tak ada yang pernah duduk dimeja kayu itu,, kau paham?” ia tetap yakin dengan jawabannya, namun itu semakin membuatku tak mengerti. Siapa yang sebenarnya bodoh? Aku?

Lalu aku melangkah menuju sudut ruangan dimana namja itu selalu duduk disana dengan segala kelebihan yang ia miliki, ketampanannya!. Aku melihat meja itu kosong, tak ada apapun disana, bahkan saat ini aku melihat meja itu terlihat usang, tertutup oleh debu. Apa ini? Bukankah ia selalu disini? Bagaimana bisa tempat ini kotor?

***
Berhari-hari aku memikirkan semua ini, otakku benar-benar tak dapat menjangkau semua yang terjadi, dan sudah 1 minggu berlalu, aku tak pernah lagi melihat sosok namjaku, Jang Wooyoung. Dimana dia? Kemana dia? Atau siapa dia sebenarnya?

Semua orang memang tak pernah melihatnya, bahkan aku dianggap gila karena menanyakan semua tentangnya, namun aku yakin jika semua yang kualami ada sebuah hal yang nyata. Aku kembali mengingat saat-saat pertemuan pertamaku dengannya, saat kedekatanku dengannya, hingga saat terakhir aku bertemu dengannya. Bahkan kalung itu! yah,, bahkan aku mengenakan kalung putih bergambarkan bintang yang ia berikan untukku tempo hari. Lalu kenapa semua orang tak pernah melihatnya? Apakah ini hanyalah sebuah imajinasiku?

***



Kau benar-benar lupa segalanya
Melihat betapa cerianya kau menyapaku
Seketika kepedihan samar-samar mulai kurasakan
Luka yang kini muncul di kulitku
Air mata enggan menitik
Karena perpisahan ini bagai tak berarti
Karena ini serasa tak benar

Pada akhirnya tak kan ada ucapan selamat tinggal yang indah

Jika kutahu, ku kan menangisi semuanya
Saat itu, aku telah menjadi bagian dari akhirmu
Sebuah cerita yang hanya aku tak mengetahui
(IU - The Story Only I Didn't Know)

“Wooyoung-ah,, dimana kau sekarang? Siapa kau sebenarnya?” aku terduduk disebuah ayunan di taman kota. Tempat dimana pertemuan terakhirku dengannya.

Aku tertunduk lesu, dan kali ini tetesan air mata telah jatuh membasahi kedua pipiku. Aku tak sanggup lagi memikirkan keanehan ini, aku tak terima saat orang lain mengatakan jika mereka tak pernah melihatnya, aku tak terima saat kau menghilang begitu saja tanpa memberitahuku yang sebenarnya. Aku tak tau apa yang harus kulakukan? Berhari-hari aku berharap bahwa kau akan datang, namun kau tak pernah datang. Berhari-hari aku menunggu dengan air mata yang harus menetes. Setiap malam aku selalu datang ketempat ini, namun kau juga tak pernah menampakkan dirimu. Dimana kau? Jang Wooyoung…!

“Ji Eun-ssi…” tiba-tiba seseorang memanggil namaku, kali ini suara yang sudah sangat kukenal, Jang Wooyoung, yah,, kuyakin ini suaranya.

Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk, kulihat sosok namja yang sangat kurindukan, sosok namja yang membuatku harus meneteskan air mata, sosok namja yang membuatku tak dapat menerima semua keadaan ini.

“Wooyoung-ah..” desahku pelan sembari kulemparkan segaris senyum dengan air mata yang masih mengalir dipipiku. Entah apa yang kurasakan, aku bahagia melihatnya, namun hatiku merasakan sebuah kepedihan. Dan saat ini, kulihat ia tersenyum padaku, ia kembali memperlihatkan senyumannya padaku.

“Wooyoung-ah…” aku kembali memanggil namanya pelan, dan kali ini aku berdiri dari posisiku dan mencoba melangkah mendekatinya. Namun sesuatu yang tak kuinginkan terjadi, bagaimana bisa sosoknya menghilang saat aku ingin memeluknya. Apa ini? Apa yang terjadi? Siapa dia?

“Oppa,,,” aku berteriak dengan air mata yang semakin deras membasahi kedua pipiku, dan tak sanggup lagi rasanya untukku berdiri hingga akhirnya kini aku terduduk dibawah bayang-bayang sinar bulan yang seolah ikut merasakan apa yang kini kurasakan.

######

Sabtu, 01 Oktober 2011

Izinkan Aku Jatuh Cinta


Ada pinta dalam bait kata
Ada senandung jiwa dalam syair hati
Ada kerelaan dalam melangitnya asa cita
Ada cahaya cinta berpendar ditaman hati
“Kuingin dialah sang belahan jiwa”

Kala sebuah takdir t’lah mematri kami
Izinkan aku membisikkan kata
“Aku sungguh jatuh cinta padamu”

Kala senyum bahagia kami merekah
Kala ‘kusentuh jemarinya’ nan lembut
“Semoga kan menjadi taburan kasih”

Kutengadah jemari, “Jadikanlah kami sepasang cinta”
Kala bunga cinta kami bersemi mekar
“Semoga ia kan jadi pelita, semoga ia kan jadi lentera, semoga ia kan menjadi sebuah senyuman bangga”

Izinkan aku jatuh cinta kepadanya yang layak kucinta
Izinkan aku jatuh cinta hanya untuknya yang memang kucinta

***

Tiga tahun sudah aku mengenalnya,, mengenalnya sebagai seorang sahabat. Sosok gadis yang lembut dan ramah,, sosok gadis dengan paras wajah yang cantik nan manis,, sosok gadis yang selama tiga tahun ini telah mengisi hatiku. Dialah Yuki,, sosok perempuan yang kini tengah berdiri dihadapanku dengan sebuah senyum yang terkembang begitu manis menghiasi wajah putihnya yang cerah. Entah apa? sesuatu yang kini telah menutupi lubang – lubang dihatiku,, saat melihatnya, jantungku berdetak cepat, saat kutatap matanya, betapa itu semua membuat hatiku berdegup kencang,, saat – saat indah yang selalu terbayang manis pada sebuah angan – angan.

Yah,, aku dan Yuki,, memang hanyalah sepasang sahabat,, sahabat yang akan selalu berbagi suka dan duka dalam situasi apapun,, namun,, selalu kuberharap bahwa apa yang kulewati sekarang akan membawaku pada sebuah hubungan yang lebih indah. Meskipun kusadar,, entah kapan rasa ini akan terbalaskan olehnya,, namun selalu kumeminta kepada Nya,, “Jadikanlah kami sepasang cinta”.

***

“kamu yakin,,,”  kata-kataku sedikit tertahan dengan perasaan yang membuatku putus asa,, betapa tidak,, dengan wajah yang berseri-seri ia menceritakan seseorang yang kini mulai mengisi hatinya,, orang yang baru dikenalnya 1 bulan yang lalu. ‘cinta pada pandangan pertama’ mungkin itulah yang kini tengah ia rasakan.

Kepadanya,, sosok pria yang kukenalkan 1 bulan yang lalu,, ia labuhkan hatinya, sebuah cinta. Sakit memang, sakit yang terasa begitu perih meninggalkan jejak keputus asaan,, saat ia bercerita tentangnya yang begitu sempurna,, dan mungkin tak ada sedikitpun namaku didalam kamus cintanya,, aku memang hanyalah seorang sahabat,, dan akan tetap menjadi sahabat.

Namun demi sebuah rasa cinta,, 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyumannya adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramannya adalah buah cinta yang amat teramat mendekap dihatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah’.

“aku yakin Efan,, kalo Rio lah belahan jiwaku,,” dengan sebuah senyum yang menghiasi setiap kata yang terucap dari mulutnya,, aku hanya bisa menahan rasa sakit didalam hati. ‘belahan jiwa’ ia begitu yakin bahwa dia lah belahan jiwanya. Kenapa saat saat seperti ini begitu sulit untuk kuterima??

“kalau memang kamu yakin,, kejarlah cintamu itu,,” dengan segurat senyum aku memberinya sebuah semangat kecil yang sesungguhnya kini tengah berperang dengan rasa putus asa yang menguasai perasaanku.

“tapi Efan,, apa harus aku yang lebih dulu menyatakan cintaku padanya?? Aku seorang perempuan,, apa pantas untuk menyatakan cinta pada seorang laki-laki??” ia bertanya padaku dengan wajah penuh harap bahwa aku akan memberikan solusi padanya tentang rasa yang kini ia rasakan.

“Yuki,, sahabatku tersayang,,,,” kata-kataku tertahan pada seuntai kata ‘sayang’ yah,, ia lah sosok gadis yang kusayangi, kucintai sepenuh hati,, bukan sekedar sahabat,, tapi lebih dari seorang sahabat. “kenapa enggak,, tak salah kalau memang perempuan ingin menyatakan cintanya pada seorang laki-laki,, jika memang kamu yakin,, lakukanlah,,” aku berbicara seolah aku adalah seseorang yang bijak.

 Tidak! Tentu tidak! Aku bukanlah seseorang yang bijak,, seseorang yang dapat menerima kenyataan ini,, aku hanya seseorang yang kini telah jatuh pada sebuah rasa. Aku tak pernah mempersiapkan diri,, jika rasa yang kumiliki ini tak akan pernah kumiliki,, aku hanya seorang dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Oh bukan,, seseorang yang memiliki cinta sepihak. Yah,, aku hanya mencintainya,, dan ia tak tau akan perasaanku.

“nanti malem,, Rio ngajakin aku makan malam,, apa aku harus mengatakannya nanti??” Yuki masih terlihat bimbang dengan perasaannya,, bukan karena ia tak yakin akan perasaannya,, tapi karena ia ragu untuk mengatakannya. Ia adalah seorang wanita,, mungkin tak sepantasnya?? Dan jika memang itu pantas dilakukannya,, apakah sanggup??  Lalu bagaimana  jika perasaannya tak terbalas??

“aku akan selalu mendukungmu,, sahabat yang akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk sahabatnya ter,, SAYANG,,,” aku kembali menyemangatinya,, dengan segala perasaan yang membuncah dihatiku,, aku sungguh tak sanggup jika terus menerus mengatakan sesuatu yang sesungguhnya tak ingin kukatakan.

Jika aku diperbolehkan untuk berjujur,, ingin rasanya aku melarangnya melakukan hal itu,, melarangnya untuk mencintanya,, melarangnya untuk pergi dengannya. Sungguh,, entah sejak kapan,, aku memiliki perasaan ini,, perasaan yang mungkin tak akan pernah terbalaskan.

“Efan,, aku beruntung banget punya sahabat yang perhatian dan pengertian kaya kamu,, aku harap kamu gak akan pernah lelah untuk selalu jadi sahabatku,, Best Friend Forever..”  ucap Yuki dengan riang dan untuk kesekian kalinya,, ia menunjukkan senyumannya yang begitu manis, senyuman yang selalu membuat hatiku bergetar hebat. Aku hanya dapat tersenyum membalasnya,, tersenyum diatas rasa kecewa dan keputus asaan karena cinta.

Entahlah,, mungkin karena begitu besar rasa cinta dan sayangku untuknya yang membuatku tak dapat menerima semua ini. Terlebih saat aku mendengarnya berkata  ‘Best Friend Forever’,, semua itu benar-benar membuatku semakin tak berdaya menahan perasaan ini yang semakin perih,, apakah memang aku hanya akan menjadi teman untukmu?? Tak dapatkan aku menjadi teman dalam kehidupanmu mendatang?? Tak dapatkan kau berikan hatimu untukku??

Ya Allah…
Kutengadah jemari, “Jadikanlah kami sepasang cinta”
“Kuingin dialah sang belahan jiwa”

***

Malam ini,, perasaanku sungguh tak tenang,, entah perasaan apa yang membuatku tak dapat berhenti memikirkan Yuki,, mungkin karena aku takut jika Yuki akan mengatakan perasaannya pada Rio? Mungkin aku takut jika mereka akan menjadi sepasang kekasih? Mungkin aku takut jika Rio akan menyakitinya? Ya Allah,, aku akan bahagia jika orang yang kucinta bahagia,, tapi aku akan bersedih pula jika seseorang yang kucinta juga bersedih.

***

Kutapaki setiap jengkal jalan setapak yang berada disekitar taman kota,, terlihat ramai,, karena memang malam ini langit terlihat cerah,, dengan sinar rembulan yang bersinar utuh menerangi langit malam,, aku terus berjalan menelurus kedepan,, entah apa? seolah kedua kakiku ingin membawaku pada sebuah tempat di sudut taman ini. Lampu-lampu pijar yang menyala menerangi setiap sudut taman membuatku dapat melihat pasangan muda mudi yang tengah bercengkrama menikmati malam ini. Aku tersenyum,, melihat mereka yang bahagia,, betapa bahagia mereka yang dapat mencintai dan dicintai oleh orang-orang yang memang mereka sayang.

Pikiranku kembali teringat akan Yuki yang mungkin saat ini tengah menikmati suasana malam bersamanya,, orang yang dicintainya,, hatiku kembali menerawang asa yang sulit kulupakan,, betapa ini memang sangat sulit untuk kuterima.

“betapa bahagia mereka,,”desahku lirih sembari tetap melangkahkan kedua kakiku,, menikmati setiap hembusan angin malam yang  menerpa tubuhku,, menemani langkahku yang sendiri ini, hingga tanpa sadar langkahku telah membawaku pada sudut taman dengan sebuah lampu pijar yang berdiri gagah.

Namun tunggu! Tak kulihat terangnya lampu pijar itu,, cahayanya redup membuatku tak dapat melihat jelas apa yang ada didepanku. Kuterawang dengan teliti,, kulebarkan kedua kelopak mataku,, kulihat ada seseorang yang tengah terduduk dibangku taman yang berada tepat disamping lampu pijar itu. Siapa? Aku tak dapat melihat jelas wajahnya,, mungkin kini ia tengah tertunduk,, dan samar-samar kudengan suara isakan yang coba ia tahan.

Aku mencoba mendekatinya,, memastikan siapakan gerangan yang tengah terisak ditempan ini,, perlahan dan penuh dengan kehati-hatian aku melangkahkan kakiku mendekati bangku itu, agar sekiranya tak membuatnya terkejut, karena mungkin saat ini ia belum menyadari keberadaanku.

“apa kamu sendirian?” tanyaku berhati-hati agar ia tak begitu terkejut dan tidak menganggapku orang jahat.

“apa kau melihat orang lain disini?” ia berbalik tanya padaku, dengan suara yang terdengar berat,, mungkin ia memang tengah menangis, namun aku masih tak dapat melihat wajahnya karena ia masih menundukkan kepalanya. Tapi baguslah,, paling tidak ia tak terkejut dengan kedatanganku.

“kau benar,, disini memang tak ada siapa-siapa kecuali kau dan aku,,” aku tersenyum dengan pertanyaanku barusan. Bodoh sekali aku? Sudah jelas jika ia tengah sendiri,, lalu untuk apa aku bertanya hal tidak penting itu?

“em,,, apa kau sedang menangis??” aku kembali bertanya padanya,, namun kali ini sedikit kuberanikan untuk mendekatkan wajahku padanya. Aku begitu penasaran dengannya,, entah kenapa? Aku ingin sekali melihat wajahnya, mungkin ia seorang wanita,, karena kulihat rambutnya yang tergerai panjang dan suaranya yang lembut. Dan satu hal lagi yang membuatku begitu penasaran dengannya,, menapa sedari tadi hatiku berdegup kencang, perasaan yang hanya kurasakan pada Yuki.

Ia hanya diam,, tak kudengar sepatahkatapun keluar dari mulutnya,, justru yang terdengar kini adalah isakan tangisnya yang kembali terdengar. Apa aku salah bicara?

“maaf,, aku tak bermaksud membuatmu menangis,, apa kamu,,”

“hei,, bisakah kau diam,, jika kamu hanya ingin menggangguku,, lebih baik kau pergi!” kini ia berkata dengan nada yang tinggi. Mungkin ia merasa kesal karena aku yang tak mengenalnya sudah mengganggunya,, namun sungguh,, aku begitu penasaran dengannya, aku sangat-sangat ingin melihat wajahnya.

“maafkan aku,, bukan maksudku untuk mengganggumu,, tapi aku hanya ingin membantumu,, kita mungkin tak saling mengenal,, tapi entah kenapa aku sungguh ingin membantumu..” aku mencoba untuk membela diri,, bukan bermaksud lain, aku sungguh ingin membantunya, membuatnya agar tak lagi mengangis.

Ia kembali terdiam,, mungkin kini ia tengah menimbang-nimbang perkataanku,, aku mencoba untuk duduk disebelahnya,, dan sekali lagi aku mencoba meyakinkannya,, “aku tak tau apa yang membuatmu menangis,, aku juga tak tau apa yang membuatku datang ketempat ini,, hatiku berkata bahwa aku harus datang ketempat ini,, mungkin ini takdir,, kita yang mungkin tak saling mengenal, bertemu ditempat ini..”

“aku malu,, aku begitu bodoh,, aku tak pernah mencari tau tentang perasaannya padaku,, aku pikir dia juga mencintaiku,, tapi ternyata tidak,, bahkan ia sudah mempunyai kekasih,,” ia berkata begitu lirih sembari menahan isaknya,, menahan air matanya agar tak kembali berlinang. Ia bercerita padaku seakan ia sudah mengenalku,, dan entah perasaan apa yang membuatku ikut merasakan kepedihannya.

“Yukiiii,,,” lirihku dalam hati. Entah kenapa aku merasa dia adalah Yuki,, Yuki yang kini tengah menangis,, Yuki yang kini tengah memendam rasa kecewanya dengan semua tangisnya. Dengan berhati-hati aku mencoba untuk mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk,, ia hanya diam,, diam tanpa kata,, ia sama sekali tak marah dengan apa yang kulakukan.

“Efan,,,,” ucapnya dengan tatapan sendu,, ia terkejut melihatku,, begitu pula denganku. Aku begitu terkejut melihatnya,, jadi dia,, wanita yang kini tengah menangis dihadapanku adalah Yuki, Yuki perempuan yang sangat kucintai.

Perasaan ini,, hati ini,, semua ini yang telah membawaku ketempat ini, mungkin untuk menjadi sandarannya saat ia tengah menangis. Apa ini?? Apakah ini memang sebuah takdir??

“apa yang terjadi Yuki? kenapa kau disini? dimana Rio? kenapa kau menangis??” aku tak dapat lagi menahan perasaanku,, tak sanggup rasanya melihatnya menangis. Kini aku mendekapnya dalam pelukanku,, memberinya ketenangan agar ia tak kembali menitihkan air mata.

***

Hingga 1 bulan berlalu,,,

Kini Yuki telah kembali menata hatinya,, hati yang pernah merasakan kekecewaan. Yah,, karena Rio,, ia harus merasakan kekecewaan,, kejadian 1 bulan yang lalu telah ia lupakan. Mungkin semua ini memang bukan kesalahan Rio,, Rio tak pernah bermaksud untuk menyakiti hatinya,, namun Yuki terlanjut kecewa karenanya.

Dan kini,, Yuki telah kembali tersenyum,, kembali pada sosok Yuki yang dulu selalu ceria,, kembali memberiku sebuah harapan akan cintanya. Aku sadar,, aku tak harus terburu-buru,, aku masih harus ada untuknya sebagai seorang sahabat,, melindunginya sebagai seorang sahabat hingga ia siap mengetahui semua perasaanku padanya.
…………….

Malam ini,,  aku mengajaknya kesuatu tempat,, entahlah,, mungkin aku ingin mengatakan perasaanku padanya. Aku siap,, apapun yang terjadi,, apapun yang akan ia katakana padaku.
Ditempat ini,, tempat yang sudah kutata sedemikian rupa,, tempat yang sudah kusiapkan untuk malam ini,, aku akan menyatakan cinta padanya.

“Yuki,, udah lama aku pendam perasaan ini,, aku tau kita adalah sahabat,, tapi aku selalu berharap bisa menjadi seseorang yang akan selalu menjagamu lebih dari sahabat,,” kugenggam tangannya dan kusentuh jemarinya nan lembut,, “apa kamu tau,, betapa sakit hatiku,, betapa perih rasanya saat aku tau kau mencintai orang lain,, saat aku tau hatimu telah terisi orang lain,, bukan aku,,”

“Efan,,,”

“aku mencintaimu,, aku sungguh-sungguh mencintaimu,, menyayangimu lebih dari seorang sahabat,, aku tau,, cinta seorang sahabat tak akan pernah tergantikan,, dan aku juga tau,, cinta yang kurasa ini mungkin bukanlah sebuah cinta yang abadi,, tapi aku akan selalu mencoba dan mempertahankan semua perasaan ini untukmu,,” aku terus bicara padanya,, mengatakan semua isi hatiku,, mengatakan semua yang tengah aku rasakan padanya, sesuatu yang sudah lama terpendam didalam hatiku. Aku lega,, begitu lega karena malam ini,, kesempatan itu datang disaat yang mungkin sudah ditakdirkan sekarang.

“Efan,,,”

“aku akan menunggu jika memang kau belum siap dengan semua ini,, aku hanya ingin kau menjadi pelita,menjadi lentera yang akan menerangi setiap langkahku, menjadi sebuah senyuman disaat kesedihan datang,,” aku kembali mengucapkan semua kata-kata manis untuknya,, bukan sebuah gombalan,, tapi kata-kata yang tulus kuucapkan karena kesungguhan cintaku padanya.

“aku tak pernah tau perasaanmu,, bahkan tanpa pernah kusadari,, aku pernah menyakiti hatimu,, apa masih pantas aku menjadi seseorang yang kau cintai? Kau begitu baik padaku,, sungguh aku merasa tak pantas menjadi kekasihmu, menjadi seorang yang kau cinta Efan,,,”

“Yuki,,, itulah cinta,, cinta dapat membuatmu bahagia, tapi terkadang sebuah kesalahan kecil bisa membuatmu terluka,, tapi perlu kamu tau,,’cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan,, cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kemuliaan,, cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat’ jadi apalah sebuah kesalahan dimasa lalu untuk sebuah cinta dimasa depan..” kugenggam tangannya semakin erat,, aku semakin yakin akan perasaanku padanya.

“aku,,,aku,,,” kini butiran-butiran air mata sudah membasahi kedua pipinya,, dan sebelum air matanya jatuh semakin banyak kuseka air matanya dengan lembut.

“jangan menangis,, ini bukan sebuah sinetron yang menguras air mata,,” aku tersenyum kecil padanya,, dan ia pun membalasnya dengan segaris senyum yang terlukis manis diwajahnya.

“aku tak menangis,, aku bahagia,, karena kau sudah memberiku sebuah cinta,, cinta yang selama ini kucari,, dan ternyata semua itu ada dihadapanku,,,” ia tersenyum dengan butiran air mata kebahagiaannya.

“jadi,, kau,,,” aku menggantungkan semua kata-kataku,, berharap ia akan mengatakannya padaku.

“iya,,, aku juga mencintaimu Efan,,,” ucapnya begitu jelas,, semua yang kudengar adalah sebuah pengkabulan dari semua doa-doa yang selalu kupinta pada Nya.

***

Betapa aku bahagia,, sebuah kebahagiaan yang sudah lama kutunggu,, setelah sekian lama bertahan dan bersabar,, hingga sekaranglah jawaban yang telah Engkau berikan padaku.
Aku berjanji,, untuk selalu menjaga cintanya,,
Aku berjanji,, untuk selalu melindunginya,,
Aku berjanji,, untuk selalu membahagiakannya,,

*** End ***

 (hahaha gambar gak nyambung,,, *abaikan gambar*)

Rabu, 21 September 2011

Ketika Harus Bertahan, Ketika Harus Melepaskan

Dear sahabatku,
Hidup ini selalu berputar, tak selamanya kita berada dibawah dengan semua kepedihan dan tak selamanya kita diatas dengan segala kesenangan. Allah Maha Adil,, hanya Dia yang tau mana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Sahabatku,, ada perih disudut hati, ketika aku menceritakan tentang segala yang kualami. Setelah lama bertahan, setelah lama memendam luka, setelah sekian lama kurendam nestapa, rupanya Allah ijinkan juga untukku menempuh jalan itu, aku percaya,, itu suatu “keputusan terakhir” yang terbaik untukku.

Sahabatku,, ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan,, tapi ada saat dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu berhenti mencintai kita, melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih bahagia apabila kita melepaskannya.

***

Sore itu,, dibawah bayang-bayang cakrawala,, sendiri kulangkahkan kedua kakiku menyusuri tepian danau yang menyajikan berjuta panorama indah. Kembali mengenang saat-saat indah,, ditemani dengan suara kicauan burung  yang terdengar merdu memecah suasana,, seolah mereka tau dan merasakan kerinduan yang kini menaungi hatiku. Bola mataku terus saja menelurus kedepan sembari merasakan hembusan angin yang membelai lembut tubuhku. Siluit cahaya keemasan yang terlukis indah diujung barat,, mengingatkanku pada semua kenangan indah dengannya,, bersama seseorang yang pernah mengisi hatiku. Namun,, masih pantaskah jika aku selalu mengingat kenangan manis itu?
…………….

2 tahun yang lalu….

“Yudha,, kamu mau bawa aku kemana??” dengan mata yang tertutup oleh seikat kain hitam aku terus saja bertanya pada sosok laki-laki yang kini menuntunku kesuatu tempat. Namun tak kudengar sepatah katapun jawaban yang keluar dari mulutnya,, masih saja ia diam membisu membuatku hanya bisa menahan rasa penasaran.

Hingga tak berapa lama,, ia menyuruhku untuk menghentikan langkahku. Membiarkanku dengan segala rasa keingintahuan,, aku masih saja membayangkan tempat apa yang membuatnya hingga harus menutup kedua mataku. Dimana ini?

Ia masih saja diam, membiarkanku berdiri dengan mata yang masih tertutup,, namun sedikit kudengar sayup-sayup kicauan burung yang berpadu dengan kesejukan angin yang berhembus ringan menerpa lembut seluruh tubuhku.

“buka mata kamu pelan,,” bisiknya dari arah belakangku sembari membuka ikatan kain hitam yang menutupi mataku.

Perlahan,, setelah ia membuka  ikatan mataku,, sesuai dengan apa yang diucapkannya, aku membuka kedua mataku dengan sangat pelan,, merasakan setiap cahaya terang yang mulai kulihat. Hingga akhirnya,, kedua bola mataku telah benar-benar membuka seutuhnya, kulihat betapa indah lukisan alam yang telah diciptakan sang pemilik kuasa. Sejauh mata memandang,, kulihat limpahan air dengan warna biru menerawang langit terhampar didepan mataku. Sangat indah,, berbadu dengan hijaunya alam yang nyata membentang dihadapanku.

“liat disana??” kini ia kembali membisikkan sesuatu ditelingaku,, sembari menunjuk kearah kanan tak jauh dari tempatku berdiri sekarang.




Kulihat sebuah rangkaian bunga mawar berlambangkan hati yang tersusun indah disana,,
“Yudha,, ini,, ini semua,,” ucapku masih tak bercaya dengan semua yang kulihat,, begitu indah,, sangat indah. Tak pernah terbayangkan sedikitpun olehku Yudha akan melakukan semua ini dihari spesial hubungan kami.

“ini semua hadiah anniversary kita yang pertama,, mungkin aku belum bisa jadi pacar yang sempurna, tapi aku janji,, bahwa dihatiku hanya akan ada namamu,, Feronika Ajeng.” ucapnya begitu tulus,, hingga tanpa sadar membuatku menjatuhkan setetas air mata kebahagian atas semua yang telah dilakukannya.

Yah,, hubungan ini,, hubungan yang telah berjalan hingga 1 tahun, benar-benar membuatku merasakan arti cinta yang sesungguhnya. Bersama Rahardian Yudha,, sosok pria yang begitu lembut, begitu baik, begitu perhatian, membuatku tak ingin rasanya jika harus jauh darinya. Saat-saat suka dan duka telah kulalui bersamanya,, hingga tak ingin jika semua ini harus berakhir.


***

Semua kenangan manis itu,, begitu indah jika harus dikenang,, namun juga terbersit sebuah perih yang menyayat hati tak kala janji hanyalah sebuah janji. Dan hubungan yang berjalan hingga 1 tahun hanya akan menjadi masa lalu,, tak kala kuteringat perihnya hati ini saat melihatnya, melihat Yudha begitu bahagia bersama gadis lain.

Entah sejak kapan,, kedekatan Yudha bersama gadis itu,, perkenalan mereka yang baru berjalan 1 bulan sudah membuat mereka seolah menjalin hubungan yang spesial. Mereka,, mereka yang selalu tertawa, mereka yang saling mengagumi karena kelebihan masing-masing, mereka yang menjalin sebuah pertemanan diantara hubungan dekat kami, aku dan Yudha. Entah kenapa? Itu benar-benar membuatku sakit?

Aku sadar,, tak sepantasnya aku menjunjukan rasa tak sukaku akan apa yang dilakukan Yudha bersama gadis lain. Cemburu,, yah aku terbakar cemburu,, betapa sakitnya saat kumelihat Yudha seolah berubah. Yudha,, ia menjadi sosok yang tak pernah kulihat saat bersamanya,, namun tidak saat bersamaku. Sejak mengenal gadis yang selalu dianggapnya sebagai sahabat,, Yudha seolah menemukan belahan jiwanya yang dapat membuatnya menjadi dirinya sendiri. Aku sedih,, karena bukan aku, pacarnya,, yang membuatnya dapat menjadi dirinya sendiri. Angelina Agnes,,  gadis itulah yang kini juga mengisi hari-harinya.

Hingga disuatu hari, saat kutengah berjalan melewati koridor-koridor kampus,, tanpa sengaja kulihat Yudha tengah tertawa begitu bahagia dengan Agnes. Begitu membahagiakan kah saat ia bersama gadis itu? Hatiku benar-benar tak bisa melihatnya,, rasa sakit itu selalu muncul tak kala aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Kenapa? Kenapa seolah aku hanya menjadi yang kedua untuknya? Ingin rasanya aku mendekatinya,, mengajaknya pergi meninggalkan gadis itu,, namun begitu berat jika aku melihat tawa Yudha yang selalu mewarnai wajahnya.

“Yudha,,, tak bisakah kau melihatku saat bersamanya?” lirihku pelan dan tanpa sadar seberkas air mata jatuh membasahi pipiku.

***

Sudah hampir 2 minggu ini aku tak bertemu dengannya,, kesibukan kami masing-masing yang membuatku tak dapat bertemu dengannya. Meskipun kami tetap berkomunikasi,, namun selalu terngiang bayang-bayang Yudha bersama Agnes. Tuhan,, apa yang harus kulakukan?? Aku begitu mencintainya?? Tak ingin jika aku melepaskannya??

Hingga malam tiba,, dibawah cahaya bulan yang saat itu tengah memancarkan cahaya utuhnya,, aku sendiri, berdiri dibalkon rumahku,, membayangkan kenangan-kenangan indah yang sudah kulalui bersama Yudha selama 1 tahun terakhir. Saat-saat terindah dalam hidupku kulalui bersamanya,, Yudha,, sosok yang selalu mengisi hatiku. Hanya dia, laki-laki yang kucintai, hanya Yudha yang ada dalam hatiku,, namun,, apakah Yudha masih merasakan hal yang sama?? Apakah dihatinya kini hanya ada namaku seorang?? Sedih jika harus membayangkan hal itu,, dan hanya tangis yang akhirnya harus berkorban.

***

 Pada akhirnya,,, perasaan membawaku pada saat-saat yang begitu sulit dan terasa berat,, namun memang inilah jalan terbaik yang harus kulakuakan. Sedikitpun tak pernah kuharapkan semua ini harus terjadi,, tak ada yang perlu disalahkan dan tak ada yang perlu menyalahkan.

“Yudha,, maafkan aku,, aku sangat mencintaimu,, namun aku tak bisa untuk melanjutkan hubungan ini..” ucapku mencoba untuk menahan isak. Tak sanggup rasanya melanjutkan semua ini,, kenapa harus seberat ini??

“Ajeng,, apa maksud kamu?? Apa yang barusan kamu bilang?? Jika memang benar kau sangat mencintaiku,, kenapa kita harus berpisah setelah selama ini kita bersama??” kini laki-laki yang sangat kucintai tengah menggenggam erat kedua tanganku. Tak sanggup rasanya aku menatap kedua matanya,, tak akan pernah sanggup saat semua ini harus kulakukan demi kebahagiaannya.

“Ajeng,, jawab aku,, tatap mata aku,, apa kamu serius?? Semua ini gak akan bisa membuatku bahagia!” ucapnya lagi. Aku masih saja diam,, tak tau apa lagi yang harus kukatakan untuk melepaskannya. ‘Aku sangat mencintainya,, SANGAT…’ Tapi aku harus melepaskannya.

Dan akhirnya,, tanpa mengatakan sepatah katapun,, kucoba melepaskan genggaman tangannya yang begitu erat,, sekuat tenaga kulepaskan genggamannya,, namun apa? Tak dapat sedikitpun aku melepas genggaman tangannya,, dan yang terjadi kini justru Yudha menarikku dalam dekapan erat tubuhnya,, memelukku begitu lembut. Aku hanya diam,, sembari menikmati semua yang terjadi malam ini,, ‘Ya Alloh,, jika aku bisa memohon kepadaMu,, hentikanlah waktu dalam detik ini juga,,’ pintaku dalam hati masih dalam posisiku bersama Yudha.

Yah,, mungkin pelukan ini akan menjadi  pelukan terakhirku bersamanya sebagai seorang kekasih. Meninggalkan semua kenangan indahku bersamanya,, saat tawa dan canda hanya akan menjadi sebuah masa lalu yang hanya menjadi sepenggal cerita manis.

Dan akhirnya,, setelah kunikmati pelukan ini sebagai tanda perpisahan kami, kembali kucoba untuk melepaskan pelukan ini,, kudorong tubuh Yudha pelan yang seolah kini terasa sangat ringan,, kenapa sekarang begitu mudah kau melepaskanku? Apa kau sudah lelah dengan semuanya? Apa kau sudah menerima keputusanku, Yudha?

Hingga akhirnya,, dengan begitu berat kulangkahkan kakiku meninggalkan Yudha yang  masih saja mematung ditengah malam yang saat itu seolah ikut bersedih melihat perpisahan ini. Aku hanya bisa menangis,, meskipun telah kucoba untuk tak menangis,, menahan air mata ini agar tak jatuh,, namun semua itu tak sanggup kulakuan.

“AJEEEENG,,,,”

“maafin aku Yud,, ini semua yang terbaik,, gak ada lagi yang bisa dipertahanin,, aku yakin,, suatu saat kamu akan lebih bahagia,, mungkin tidak denganku,,” isakku sembari menahan rasa sakit yang semakin menyayat hati.

***

Hingga 2 tahun kemudian,, setelah kuputuskan untuk pindah ke Singapore meninggalkan semua kenangan indah ini,, kini aku telah kembali setelah menata hatiku. Tak ada lagi kesedihan dan tak ada lagi tangisan. Kebahagiaan telah kembali menyelimuti hari-hariku. Terlebih saat kudengar kabar yang membuatku ikut bahagia,, saat Yudha kini telah menemukan sosok yang benar-benar dicintainya dan mencintainya dengan tulus. Yah,, Agnes,, ialah sosok gadis yang kini dapat membuat Yudha bahagia dengan ketulusan cinta.

Dan dibawah bayang-bayang cakrawala ini,, tepat ditempat ini,, aku telah mendapatkan sebuah pelajaran akan satu hal bahwa ‘melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru’ dan saat ini,, kehidupan baru telah menyambutku dimasa depan.

***END***

Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang lain.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita merasa dia itu ganteng, cantik, teristimewa dibandingkan dengan yang lain.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemukan yang seperti dia.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat-saat indah senantiasa terbayang dibenak kita.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata “SAYA SANGAT MENCINTAINYA”

Ingatlah!!
Melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru..

Kita harus melepaskan seseorang karena kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.
Kita harus melepaskan seseorang karena kita menyadari yang ganteng, yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaik untuk kita.
Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Allah mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi  yang lebih baik.
Kita harus melepaskan seseorang ketika saat-saat indah hanyalah tinggal masa lalu.
Kita harus melepaskan seseorang karena kepala kita berkata “tidak ada lagi yang dapat dipertahankan”

Kegagalan tidak berarti kita tidak mencapai apa-apa.. namun kita telah memahami sesuatu.. Segala sesuatu ada waktunya,, ada saat mempertahankan,, ada saat melepaskan..!!

***